Puisi: Bayang-Bayang Kekuasaan




Di tanah yang bernafas luka,
warga berseru dalam gemuruh suara,
namun berita memilih buta,
mengabdi pada tahta, bukan pada makna.

Mereka datang, meninggalkan ladang,
membawa harapan dalam terik siang.
Namun yang tertulis bukan jeritan,
hanya tudingan dan olok-olokan.

Siapa yang datang, dari mana asal,
seakan nyali diukur oleh tanah kelahiran.
Padahal suara adalah milik yang peduli,
tak terbatas batas, tak terbelenggu identitas.

Mereka bicara pagar yang tumbang,
tapi menutup telinga dari hak yang diinjak.
Tak penting alasan, tak penting tujuan,
yang penting mengamankan kekuasaan.

Media yang dulu pilar demokrasi,
kini menjadi tali pengekang aspirasi.
Mereka lupa pada nurani,
menjamu janji, menjual diri.

Pena yang seharusnya tajam,
kini tumpul, melayani tuan.
Berita yang seharusnya suluh,
kini hanya bayangan semu.

Di meja perundingan, janji ditebar,
kebenaran dihitung dalam lembaran rupiah.
Sementara di jalanan, jerit rakyat membuncah,
berdiri sendiri, tanpa cahaya, tanpa suara.

Tapi angin tak bisa dibendung,
ombak tak bisa diadang.
Luka ini merekam sejarah,
dan kebenaran akan pulang ke rumah.



Ditulis oleh: Adriani Miming

Next Post Previous Post

mungkin anda suka

sr7themes.eu.org