Cerpen: Lio, Si Pria Kampung-Emilianus Julio
Di sebuah kampung yang tidak jauh dari kota, hiduplah seorang pria tampan yang jarang keluar rumah dan berbicara. Namun, gaya bicaranya penuh dengan kata-kata yang indah dan selalu memberikan kesan mendalam bagi siapa saja yang mendengarnya. Pria tersebut dikenal dengan nama Lio. Sebutan "Lio" merupakan panggilan sayang bagi orang-orang yang menyukainya. Setiap hari, Lio menjalani kehidupannya dalam kesendirian yang penuh dengan pertanyaan. Ia tidak seperti pria lain yang senang bergaul dengan penduduk kampung. Setiap hari Minggu, ia lebih suka menghabiskan waktu di bawah pohon kersen yang rimbun, dengan sebuah buku dan pena di tangannya. Meskipun dikenal pintar, kehidupan di kampungnya tetaplah sederhana. Tak ada hiruk pikuk kehidupan modern, hanya kedamaian alam yang menjadi teman sejatinya.
Lio dilahirkan dalam keluarga yang sangat sederhana. Ia adalah anak kedua dari Maria dan Josep. Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani bayaran di kebun milik tetangga. Sejak kecil, Ia bercita-cita menjadi seorang tentara. Namun, melihat kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan, cita-cita itu perlahan memudar dari pikirannya. Setiap hari, di bawah pohon kersen yang rimbun, Lio membayangkan langit biru sambil menikmati keindahan alam dan ketenangan kampungnya. Sebagai seorang petani, ayahnya selalu menanamkan pentingnya bekerja keras kepada Lio. Namun, hal itu tidak mengubah dirinya. Lio lebih tertarik pada kata-kata dan kisah-kisah yang ditulis dalam buku-buku lama.
Pada 11 September 2022, Lio merayakan ulang tahunnya yang ke-22. Pada hari itu juga, ia menerima kabar baik dari salah satu kampus ternama di Kota Konoha, bagian timur Asia. Kampus tersebut mengumumkan bahwa Lio terpilih sebagai salah satu mahasiswa penerima beasiswa.
"Sungguh indah rencana Tuhan atas keluarga kita," ujar Maria, ibunda Lio.
"Kita harus bersyukur atas rencana Tuhan, Ma," tanggap Lio kepada ibunya.
Beberapa hari kemudian, Yakunda, kakak Lio, bersama kedua orang tua mereka mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya ke Kota Konoha. Pada Sabtu sore, Lio akhirnya berangkat.
"Kami selalu mendoakanmu, Nak," ujar ayahnya.
Lio tetap tenang, tanpa air mata, ketika keluarganya melepas kepergiannya. Namun, saat berjalan menuju pesawat yang menunggunya, ia tak bisa menahan tangis. Ia menghayati setiap kenangan masa kecilnya di kampung.
Perjalanan Lio ke Kota Konoha berjalan lancar. Ia tiba di sana dan disambut secara resmi oleh Pak Charles, seorang dosen yang akan mendampinginya selama di kampus. Kehidupan di kampus tak selalu mudah bagi Lio. Ia menghadapi berbagai kesulitan, baik dalam interaksi sosial maupun kesehatannya yang kerap terganggu. Namun, dengan bantuan Pak Charles, tantangan itu berhasil dilewatinya. Charles tidak hanya menjadi dosen, tetapi juga sosok yang selalu ada untuk membantunya, karena ia tahu bahwa Lio tak memiliki siapa-siapa di Kota Konoha.
Suatu hari, Pak Charles menginformasikan bahwa kampus akan mengadakan perlombaan menulis tingkat nasional. Lio sangat bersemangat untuk ikut serta.
"Aku harus memenangkan perlombaan ini," tekadnya dalam hati.
Perlombaan pun tiba. Dengan sikap optimis yang kuat, Lio berusaha memberikan yang terbaik.
Perlombaan tersebut membawa kabar gembira bagi Lio. Ia berhasil menjadi juara dalam ajang menulis tingkat nasional. Karya yang membuatnya menang bukanlah cerita tentang cinta atau petualangan, melainkan kisah tentang kehidupan sehari-hari di kampungnya yang penuh tantangan, kesederhanaan, dan keindahan yang jarang disadari oleh banyak orang. Karya tulisnya mendapat perhatian luar biasa dari kampus. Setiap pembaca merasa tersentuh oleh kata-katanya. Tulisan Lio seolah mencerminkan perasaan terdalam dari setiap jiwa yang membacanya. Ia menulis dengan lembut, tenang, dan tajam, sebuah gaya yang jarang ditemukan di kalangan penulis lain.
Meskipun banyak orang mengaguminya, Lio tetaplah seorang yang pendiam. Di balik tulisan-tulisannya, ia adalah pria yang kesepian. Kampungnya bagaikan dunia yang terpisah dari dunia luar. Banyak orang datang untuk mengenalnya, tetapi ia lebih memilih menghindar.
"Kehidupan di sini memang sunyi, tetapi cita-cita memberiku ruang untuk mendengar suara hati," tulisnya dalam buku harian.
Suatu malam yang gelap dan hujan deras, Lio duduk di dekat jendela kamarnya. Ia perlahan mengambil buku dan pena, lalu menutup matanya, sembari merenungi kehidupannya. Tak lama kemudian, ia mulai menulis kisah tentang dirinya—tentang perasaan yang terpendam, tentang laki-laki kesepian yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau mengasingkan diri dari dunia luar. Dalam tulisannya malam itu, ia menggambarkan bagaimana setiap tetes hujan yang jatuh ke tanah adalah kata-kata yang mati, tetapi selalu memberikan makna bagi dunia.
"Ada baiknya kata-kata kita didengar melalui tulisan, bukan hanya melalui ucapan yang sering kali lenyap di telinga pendengar," tulisnya di akhir kisah.
Selain menulis tentang kesepiannya, ia juga mengenang Sandra, kekasihnya yang telah lama hilang sejak masa SMA.
Kata-kata yang ia tulis malam itu menjadi awal dari misinya. Dengan pena yang dipegang erat, ia menuangkan perjalanannya dalam tulisan, yang akhirnya mengajarkannya tentang makna kehidupan yang sesungguhnya. Lio, si pria kampung, menyadari bahwa keikhlasan, kesunyian, dan kedamaian hanya dapat ditemukan ketika seseorang menerima dirinya sendiri.
Tulisan panjang yang ia hasilkan malam itu kemudian diberikan kepada Pak Charles. Saat membacanya, Pak Charles merasa terharu. Setiap kata dan kalimat dalam tulisan itu seolah menghidupkan jiwa. Merasa terinspirasi, Pak Charles berinisiatif menerbitkan tulisan Lio sebagai sebuah buku. Tak lama setelahnya, buku tersebut resmi diterbitkan.
"Aku sangat berterima kasih, Pak," ucap Lio kepada Pak Charles.
"Sama-sama, Lio. Ini hasil kerja keras kita bersama," jawab Pak Charles.
Buku itu membuat nama Lio semakin dikenal. Di kampus, ia dijuluki sebagai mahasiswa terbaik. Di kampungnya, ia dipuji sebagai anak yang pintar. Keluarganya sangat bahagia mendengar kesuksesannya. Lio semakin percaya diri dan bangga dengan pencapaiannya.
"Kisahku akan selalu kutulis, hingga aku dipertemukan kembali dengan Sandra," tulis Lio di akhir bukunya.
Biodata Penulis
Emilianus Julio, mahasiswa Program Studi Ilmu Filsafat, IFTK Ledalero-Maumere.